Minggu, 29 Januari 2017

Nasihat Malam (Manusia Itu Unik)

"Manusia itu unik, Bel"
.
.
Begitulah percakapan malam itu dibuka.
"Contohnya Ayah saya"
"Unik gimana mba?"
"Beliau ini beda dari kebanyakan Ayah pada umumnya"
"Bedanya apa?"
"Ayah pada umumnya akan mengajarkan anaknya sholat dan mengaji, mengajak sholat berjamaah kemasjid, bercanda dengan keluarganya, menyuruh anak gadisnya untuk berhijab, memberikan nasihat untuk selalu sabar dan bersyukur, tapi Ayah saya ini unik, Bel"
Aku masih terdiam, mencoba memaknai unik yang dimaksud. Tapi gagal.

"Uniknya tuh gimana?"
"Ayah saya animisme. Atau bahkan mungkin juga bisa dikatakan dinamisme"
Aku hanya bisa terdiam, mungkin dalam sekilas aku menampakan ekspresi kaget karena mendengar hal tersebut.
Tapi dia hanya tersenyum tipis, seperti tau arti diam ku. 
"Iya Bel, Ayah saya seperti itu. Sampai saat ini"

----- 
Animisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda dimuka bumi ini memiliki Roh. Sedangkan, dinamisme adalah  pemujaan terhadap roh - roh yang biasanya dianggap ada pada benda - benda pusaka.
-----

Lagi - lagi aku diam dan menghela napas, memikirkan bagaimana harus merespon.
Tapi dia lebih dulu melanjutkan, "Dulu saya sama kok, menganggap Ayah saya adalah orang yang aneh" 
"Gak ada didalam kamus dia istilah sabar dan bersyukur, bahkan mungkin gak ada juga istilah Tuhan dalam hidup dia", tambahnya.

"Jadi, Ayah mba bukan islam?", gatau kenapa pertanyaan nyeleneh begini tiba - tiba aja keluar.
"Dia gak pernah sujud untuk Allah sama sekali dalam hidupnya, apalagi puasa dan bersedekah. Bagi dia segala sesuatu yang kita lakukan harus dibalas juga di dunia. Kalau dia memberi sesuatu, ya suatu saat orang yang di beri harus mengembalikannya. Tidak ada kata ikhlas dikamusnya"
"Kalo kita kan mengerti bahwa kebaikan itu ada balasannya nanti di akhirat, jadi gak boleh pamrih mengharapkan kebalasan dari orang lain. Tapi dia engga.", tambahnya.

"Terus kehidupan keluarga mba selama ini gimana?", rasa penasaran itu makin dalam dan lebih dalam.
"Ibu saya dulu juga seperti Ayah saya. Tapi, lama kelamaan ia sadar bahwa hatinya gak tergerak untuk terus - terusan melakukan dan mempercayai hal tersebut. Pada hakikatnya manusia ini tahu kok jati dirinya. Akhirnya, Ibu saya menjadi Islam sejati. Berkali - kali Ibu saya mencoba mengajak Ayah saya untuk mengenal fitrahnya. Meninggalkan hal - hal yang gak seharusnya. Tapi, Ayah saya keras banget, malah siksa batin yang Ibu saya dapat. Jadi beliau memustuskan untuk terus mengajak lewat do'a, menghindari hal - hal yang tidak diinginkan apabila terus - terusan bicara dengan Ayah saya. Ayah saya akan mengaitkan segala sesuatu dengan hal - hal yang ghaib. Kaya orang jawa jaman dulu aja. Walaupun Ayah saya tinggal di kota. Jadi saya dan kakak - kakak saya lebih memilih diam jika Ayah saya bicara. Karena jalan kami sudah beda, apa yang kami anggap benar adalah apa yang Ayah saya anggap salah. Begitu sebaliknya. Tapi walau bagaimana pun, dia Ayah saya. Walaupun sampai saat ini bisa dibilang saya gak dapat kasih sayang seorang Ayah seperti anak lain biasanya. Tapi dia Ayah saya, Ayah yang unik. "

Aku hampir menitikan air mata, tapi tertahan.
"Mba sendiri gimana? Mba tau tentang islam darimana? sedangkan keluarga mba gak mengajarkan demikian"
"Saya nih suka jalan - jalan. Saya juga suka baca. Apa yang saya tahu saat ini ya sebagian besar dari membaca. Dulu saya suka main ke perpustakaan Universitas Indonesia. Saya baca banyak buku di sana. Dari membaca lah saya menemukaan makna hidup saya. Saya nih sebenarnya apa dan siapa, apa yang harus saya lakukan di dunia, saya harus jadi orang yang bagaimana dan seperti apa, bagaimana saya bisa jadi seorang istri dan ibu yang baik, bagaimana saya bisa menjadi pemimpin yang tidak hanya dihargai karyawan saya tapi juga saya menghargai karyawan saya. Semuanya saya dapatkan dari membaca dan mendengar. Mendengar perjalanan dan kisah hidup orang lain juga buat kita belajar tentang makna hidup. Karena lika - liku perjalanan hidup seseorang itu berbeda, jadi kita bisa belajar."

"Saya kenal dengan orang unik lainnya"
Belum selesai aku terpana, dia sudah melanjutkan ceritanya lagi.

"Siapa mba?"
"Dia customer saya, dulunya seorang guru. Badannya dulu kurus kecil dan sering sakit - sakitan. Istrinya juga guru disekolah yang sama. Karena sering sakit - sakitan dia memutuskan untuk berhenti mengajar dan memilih untuk bekerja menawarkan minyak wangi dari pintu ke pintu. Tapi tebak..", dia menjeda ceritanya sejenak dan tersenyum. Saya diam menunggu kelanjutan ceritanya. 
"Sejak dia bekerja sebagai penjual minyak wangi, dia gak pernah sakit sekalipun, badannya jadi gemuk dan sehat. Padahal dia bisa pergi naik motor untuk menjual minyak wangi keluar kota bahkan sampai ke provinsi lain. Jauh banget jualannya. Tapi dia gak sakit. Dia menikmati."
"Kok bisa yaa....", tanya ku penasaran.
"Iya, bagi dia kebahagiannya adalah diluar rumah. Kalo didalem rumah dia malah sakit."
"Terus istri dan keluarganya gimana?", tanya ku penasaran lagi.
"Dia bapak dan suami yang bertanggung jawab kok. Mungkin awalnya istrinya sulit menerima karena dia harus pergi dalam kurun waktu yang lama dan pulang sebentar doang terus pergi lagi. Tapi, lama - lama istrinya mengerti kebahagiaan suaminya memang seperti itu. Unik. Jadi, mereka lebih sering berpergian bersama kalo weekend daripada menghabiskan waktu dirumah."

"Aneh ya...", ucapku.
"Gak aneh, Bel. Orang - orang itu unik. Hanya karena mereka gak seperti kebanyakan manusia pada umumnya, bukan berarti mereka aneh. Mereka unik. Kamu juga unik. Saya juga unik. Kita punya keunikan masing - masing. Tapi orang - orang seperti Ayah saya dan customer saya lebih unik dari kita."
"Kalo kamu nonton channel National Geographic, kamu akan ketemu sama orang - orang unik lainnya. Ini bukan iklan lho ya, hahaha" 
"hahaha iyaa"
Akhirnya suasana serius pukul 23.30 saat itu sedikit mencair.

"Intinya Bel, saya cuma mau bilang karena kamu nantinya Insyaa Allah akan jadi seorang Psikolog. Kamu harus tahu, bahwa manusia tuh unik, gak ada yang aneh. Manusia punya warnanya sendiri - sendiri. Jadi kita gak berhak mengahakimi seseorang itu aneh hanya karena dia gak seperti kita. Karena kesalahan yang paling sering dilakukan manusia adalah mereka ingin orang lain tuh seperti kita. Kita menganggap diri kita lah yang normal dan baik. Padahal, yang baik dan normal menurut kita bisa jadi sesuatu yang buruk buat orang lain. Kaya customer saya itu, buat kita baiknya ya kita di rumah, istirahat, kumpul bareng keluarga. Tapi, itu gabaik buat diri dia, buat dia yang baik ya menghabiskan waktu diluar rumah, keluar dengan sepeda motonya, yang penting melakukan hal - hal yang positif. Dan kamu akan ketemu sama orang - orang unik lain nantinya."

"Kamu harus banyak baca, baca apapun itu. Biar kamu tahu bacaan yang benar dan salah. Meski itu bacaan yang salah, baca aja. Biar kamu tahu yang salah tuh seperti apa. Kamu juga harus banyak mendengarkan orang lain. Biar kamu tahu perkataan yang benar dan salah. Meskipun sesuatu itu adalah hal yang gamau kamu dengar. Terkadang kita dapet banyak pelajaran dari perkataan orang lain. Kamu juga harus banyak melihat. Melihat dari berbagai sudut pandang. Sudut pandang saya sebagai orang tua, sudut pandang anak kecil, sudut pandang kakek - kakek atau nenek - nenek, sudut pandang seorang pelajar, sudut pandang seorang wirausaha atau karyawan, sudut pandang pengemis, sudut pandang pejabat, dan sudut pandang lainnya. Semakin kamu banyak mengenal orang dan paham sudut pandangnya, kamu akan memahami mereka. Karena kamu gatau kan pasien kamu nanti seorang apa? bisa aja dia Presiden, hahaha. Tuh, jadi kamu harus paham juga sudut pandang presiden dalam melihat masalah di negaranya. hahaha"

----
Obrolan kami masih berlanjut sampai hari berganti.
----

Maaf karena saya gak menyebutkan sumber dan mencantumkan sitasi.
Terlepas dari siapa yang mengatakannya, saya rasa banyak pelajaran yang saya dapat malam itu dan saya ingin membagikannya.
Mungkin nasihat itu bukan nasihat yang mudah untuk dilaksanakan. Maka dari itu saya menulisnya. Agar saya selalu ingat saat membacanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar